Rabu, 22 April 2009

MEDIO HARI KELAM

MEDIO HARI KELAM
( CERPEN )


“ Tiba-tiba ada rindu,
masuk menohok sela-sela hati,
aku sesak memandang wajah asing,
menantang persis di sepuluh tahun yang lalu”

Sabtu sore ( Pk 16.00 Wib )...
Lubang hitam di hati menganga dalam seperti kubangan, menyisakan genangan nyeri meski terkadang aku memaksa diri untuk bertahan. Berusaha riang di antara kota-kota yang aku singgahi, berjuang menjinakkan luka yang kau toreh teramat perih. Berjalan terus mencoba menepis wajah manismu yang selalu tergambar jelas di aspal-aspal hitam panas terbakar matahari. Ya. Wajahmu selalu tampil tegas di setiap gerak langkahku yang nyaris lumpuh.
Sabtu malam ( Pk 22.00 Wib )...
Malam ini aku mengeluh, berteriak keras mengadu pada bulan yang muncul setengah. Melampiaskan amarah mencari penyebab kau pergi tanpa peduli betapa hancurnya aku. Namun apa yang ku dapat dari bulan dan malam yang di gasruk kelam? Hanya seonggok diam, dan pelan-pelan malah menamparku dengan angin lalu mengejek kecengengan seorang laki-laki yang seharusnya tegar seperti karang dan gelombang. Duh..., mengapa alam tidak mengerti juga, kalau cinta mampu membuat tolol manusia super jenius sekalipun.
Minggu pagi ( Pk 08.05 Wib )...
Teriakan still got the blues dari Gary moore yang sengaja aku pasang pada alarm hand phone memaksaku terbangun, semestinya alarm itu berbunyi di hari kerja, tapi aku lupa meresetnya kembali, padahal aku berencana di hari libur begini akan meng habiskan waktuku untuk tidur lebih lama. Sial, benar-benar sial, semalaman aku tidak dapat memejamkan mata hanya karena memikirkan ketidakpercayaanku akan kepergianmu yang teramat cepat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pagi ini, aku hanya butuh secangkir kopi dan sebatang rokok.
Minggu siang ( Pk 11.30 Wib )...
Sesiang ini, wajahku lesu, mataku layu, tubuh lemas seperti kurang darah, nafsu makan hilang, jemari-jemari kering keriput, perut mual seperti ingin memuntahkan kekecewaan akan ketakberdayaanku sepeninggal kamu. Lorong-lorong waktu terus bergerak mencuri masa, jejak-jejak gelisah tercecer di hari-hari yang kering dan sepi. Oh Gusti..., beginikah rasanya kehilangan. Bernyanyi sumbang, puisi tak lagi bergelombang merayu, senar-senar dawai mengendur sendu, daun-daun penghias taman jatuh jumpalitan bergantian menyentuh tanah. Lalu, kemana perginya sebuah perjanjian, yang sempat tertulis pada batu tua pondasi asmara?.
Minggu sore ( Pk 17.30 )...
Hari yang kusam telah aku lewati. Kehilanganmu adalah siksaan berat, semakin jauh niatku untuk membuang bayangmu, semakin dekat pula kenangan-kenangan berhamburan mengusik rasa kerinduanku. Aku terkulai lagi, mencoba mencari celah-celah ketegaran, mengorek kepahitan agar aku dapat membenci keterbelahan ini, lalu mengurung dan menenggelamkannya ke dalam ruang yang mampu membuatku hidup seperti sediakala.Tapi lagi-lagi, ini persoalan hati. Siapa yang mampu menyembuhkan luka hati?.
Minggu malam ( Pk 00.00 )
Lagi, aku berkubang dengan lamunan tentangmu. Mengabadikan saat bersamamu dalam film-film fiksi di pikiranku, mengais sisa-sisa kebersamaan kita meski pahit dan jelas tergambar tak akan pernah kembali. Jeritan-jeritan kerinduan bertalu-talu memukul dinding keheranan, memacu debaran lalu menjalar dalam-dalam sel-sel darah di sekujur tubuh. Namun aku tidak pernah menyesal, dan entah sudah berapa lama aku berusaha mempertahankan perjanjian. Tak pernah ada sia-sia, meski pada akhirnya runtuh juga. Perjalanan hidup. Ya, barangkali itulah yang mesti aku sikapi akan perpisahan kita. “Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Apa yang membuat manusia merasa bahwa kekekalan adalah miliknya?”
Senin siang ( Pk 13.05 )
Aku berusaha menetralisir perasaan, mencoba kembali ke titik awal dan menghibur diri dengan setumpuk pekerjaan yang harus terselesaikan. Pelan-pelan namun pasti semuanya kembali padaku. Teman-teman yang mengerti akan keadaanku saling berebutan memberikan saran tanpa harus menerima bayaran. Aku hanya tertawa ringan, sebab persoalan hati tidak akan pernah habis dan selesai hanya dengan berkonsultasi. Ini semua harus di selesaikan olehku. Itu saja. Bukan aku mengabaikan nasehat mereka, malah aku berterima kasih karena mereka telah berempati padaku.
Mereka kasihan melihatku yang tampak frustasi dan layuh karena kau tinggal pergi.
Senin malam ( Pk 19.00 )
Setibaku di rumah, ku yakinkan diri untuk langsung mandi dan bergegas tidur. Tak ingin lagi mengupas gambar-gambar tentang kita yang membuatku semakin letih dan seperti orang tolol. Tekad untuk melanjutkan hidup dengan baik sudah bulat aku rasa, jadi untuk apa juga membuang-buang waktu memikirkanmu yang belum tentu peduli padaku.
Ajaib! Lagu she’gone dari stell heart membangunkanku di selasa pagi. Sumringah wajahku terekam dalam cermin masa depan, kealpaanku mengenangmu tadi malam memberikan harapan dan kenyamanan di hari-hari yang akan aku lalui nanti. Ku ambil laci berkunci besi dan kumasukan wajahmu ke dalamnya, tak akan pernah ku buka sebab nyeri pasti menghambat pergerakkanku selanjutnya. Selamat jalan kelam, sampaikan senyumku nanti malam pada bintang dan bulan yang pernah mengejeku di medio hari kelam>>>

1 komentar:

  1. Kan sabtu malam jalan ma gw sampe dini hari... trus selasa malemnya Hit Rock request....

    BalasHapus