Selasa, 07 April 2009

SUDAH

Sudi kiranya aku mampir sebentar ke rumahmu

Setelah sekian lama ku kayuh rindu sisa pertemanan kita

Terpisah benua coretan janji tak bermakna artinya

Serpihan kasih binasa perlahan di lalap waktu dan air mata

Sejenak saja, ijinkan aku menjenguk wangi rambut dan teduh matamu

Tolong bukakan pintu berandamu meski tak ikhlas

agar aku masuk menyentuh merah bibirmu yang ku kenal dulu

membasuhnya dengan kasih walau sudah tak lengkap betul

memaksamu memeluk hambar isi hati yang nyaris mati

sejenak saja, ijinkan aku menunjukkan memarnya penyesalan

Sesudah itu, relakan aku pergi lagi menembus mimpi

menjelajahi malam menghitung bintang melupakanmu

mengukir kelam keringkan asa di pematang bulan

jangan panggil aku jangan pula kau lambaikan tanganmu

supaya ringan langkah berlalu menelusuri sepi kesendirian

Suatu hari

Ku tulis puisi ini

saat rindu tak mampu lagi ku bendung

saat resah terus menggeliat melumat raga

saat cinta tak lagi memandang makna kasta

saat segala yang menjadikanku mengolah kata

Sore itu di shelter kwitang...

Ku tunggu kau di antara gerimis pekat awan

Bersandar keinginan menyapa teduh bola matamu

Menyibak asa menggigil hasrat segera memelukmu

Pertemuan yang lengang tiada halang melaju tenang

Sore itu di sheter kwitang...

Merayap kejenuhan sumbang asmara terlalu lama

Burung beriring pulang sengon rindang basah di tabuh hujan

Gelisah berjejal tak kunjung reda meski kau melangkah datang

Kebingungan yang ganjil aku menunggu kau atau bukan

Sore itu di shelter kwitang...

Pelangi tak muncul gedung-gedung tua di depan kedinginan

Rasa yang hampa meski sekarang kau tiba di hadap muka

SEMARA

Malam beribu malam kau kuanyam

helai demi helai rambutmu kutimang

tak selembar pun benang rentang memisahkan

lalu kau berbisik memohon hari tak lekas menghilang

bilis matamu itu menyentuh ngilu niat beranjakku

SEKIAN DULU

Jangan kita salahkan siapa-siapa

sebab percuma menempuh jalan tiada ujung

pertikaian tak kunjung reda kau dan aku lelah

enggan bertutur menipu mencari-cari seribu alasan

dan, sekian saja dulu hubungan kita

SABANA

Cakrawala menyelinap memerah

menyusun malam mendulang padang kelam

melurupkan matahari menyambut bulan

pelita dinyalakan sabana luas menggigil kedinginan

bukit rinjani itu penuh bayang luka mengenang

RINJANI

Menjamah cakrawala berkerudung lembayung

berkejaran awan dari segara anak menuju puncak

padang edelweis merah jambu berselubung kabut

matahari nyaris padam terhalang pelawangan

dari Sembalun sampai Bayan aku rindu kepadamu

RASANYA AKU BELUM SEMPAT MINTA MAAF

Di persimpangan itu kita berpisah

Kau utara, aku selatan menjilati kelam

Melangkah tertunduk, lewati tanah merah membasah

Meninggalkan sejuta pertanyaan sepanjang Padjajaran

Ah…, rasanya aku belum sempat minta maaf kepadamu

PEBRUARI SENJA

Pebruariku semakin tua

menanam guratan pada wajah tak bercahaya

usia menggeliat menyerbu raga, rapuh, luluh tak berdaya

sebuah makna belum lagi sempat ku sematkan

aku berbaring dan seterusnya terbaring

PEBRUARI DUARIBU TIGA

Menghitung malam gerimis kepanjangan

tiada rembulan apalagi taburan bintang

sepintas lalu bayangmu cepat berkelebat

menyusun ingatan luka menganga mengenang

duh…, kau begitu tajam menusuk sembilu

PEBRUARI DUARIBU EMPAT

Menepis asa yang tak sanggup terbayar

menyibak kelam di pergumulan resah

mendulang galau tersesat di kerinduan

jalan setapak buntu di sekat luka biru

hari bergerak merubah bulan tinggalkan kenangan

PAGI BULAN NOVEMBER

Pernah kukirim bahasa rindu kepadamu

lewat angin dan lirih butiran gerimis malam hari

kau tak menjawab bahkan pintumu alpa terbuka

sementara inginku kau pungut meski hanya sejumput

Pernah kulayang sepucuk resah jauh darimu

lewat ombak merintih menggulung di samudera pilu

kau tak bergeming pagar hatimu terkunci sendu

beranda jiwa sesak melupa di kesunyian lara

Ingin kucambuk bahasa rindu sepucuk resah

berharap lega mengingatmupun sia – sia

sebab kau tak pernah menerima rindu dan resahku

yang selalu kuletakan di atas angan dan degup jantungmu

OI…

Kau harus tahu,

kisah kita tak serupa siti nurbaya

asmara yang terjalinpun berbeda dengan sampek engtay

negara yang kita tinggali lain dari romeo dan juliet

jadi, mengapa kau harus takut dengan bapakmu ?

OH…

Sebait puisi pudar di lereng hati

maknanya menguap menggigil letih

tinta hitam yang mewakili melebur luntur

menyatu di titik sela tabula rasa

terperosok sepi aksara nyeri tanpa arti

ODE KEPADA LUKA

Terkapar di antara hujan dan kantuk tengah malam

Sejuta pertanyaan di sela jawaban rentan dengan dusta

Telinga kabur mendengar jenuh menutup kelopak hasrat

Jiwa yang tersuruk di hantam cinta berlumur pengkhianatan

Air mata darah menggenang membanjiri wajah bertopeng

OASE

Pada kesendirian jenuhku mengembara

Mencari celah tersesat cermin fatamorgana

Berjalan tak bisa merangkak pun nyaris koma

Lalu kau menjelma teteskan rayuan keluguan

Oh…, oase itu ternyata racun tak berwarna

NOKTAH NOL

Selamat malam peri penyelamat nyeri

telah kau sembuhkan satu luka di gema doa

yang sempat mampir bertahun dalam jiwa

mengikis habis seluruh rasa di setiap relung sukma

sungguhkah cinta tak lagi mampu bertahta ?

MERDESA

Aku lupa menjenguk teduh mata mu

padahal telah ku susun asmaradana ku

berminggu rindu ku simpan hanya untukmu

bertaut pilu memendam sembilu

masih patutkah cintaku menghampirimu ?

MEMO

Ingatkah kau tiga tahun yang lalu…

di batang pinus itu kita ukir namamu dan namaku

di lingkari bulatan hati pisau lipat saksi menancap

di lumuri pilu mengingat orang tua kita tak setuju

di ombang-ambing gelisah mencari jalan keluar

Ingatkah kau tiga tahun yang lalu...

tertawa bersama melintasi srumbung menuju jurangjero

tanganmu kuat memeluk aku yang setengah meragu

mataku pedas memacu keyakinan berharap kau selamanya

cengkeramanmu semakin lekat, hujan mengiring lebat jiwa resah

kini, dimana kau ?

Saat aku sekarat menahan rindu setia untuk menanti

Menziarahi bukit mengelupas batang pinus nama kita tak ada lagi

Mimpi-mimpi tersangkut awan berarak tak punya jejak

Mensiasati rumah pergi sendiri tak jelas tuju

MEDIO

Ku larung seluruh rasa segala asa

tak bersisa karena ku simpan percuma

padahal kemarin lusa ku coba menata

agar sempurna di tiba mu menjelang senja

berita menyapa kita pun tak pernah lagi berjumpa

Senin, 06 April 2009

MATAHARI SEPTEMBER

Matahari menyengat menindih bimbang sebuah pilihan

kau ingin pulang sementara aku merajuk jangan

tinggal saja di sisi hatiku yang tak berpenghuni

karena bersamamu begitu manis hari-hari ku lalui

" Aku lupa, kau labuhkan kasih hanya untuk sementara "

MALAM INI UNTUKMU

Seperti malam-malam sebelumnya

aku lewati sendiri menghitung bintang

kau jauh di seberang tak terbaca gelisahmu

menyeka jejak keinginan bersama selalu pupus

sementara hari terus beranjak menuakan usia

aku rindu cahaya matamu dik...

Seperti malam-malam kemarin

tiadamu memedihkan jiwa berselimut kelam

gerimis menyerang menyentuh hati penuh galau

lubang-lubang asa tersumbat jarak nyaris terkubur

renta jemari tak mampu menyentuhmu meski cuma bayang

dik, rindukah kau padaku ?

Malam ini untukmu saja

ingin ku sempatkan waktu menjamah potretmu

menantang menatap pada tembok kamar lusuh kumuh

mencipta hasrat birahi terkekang bertahun-tahun lamanya

memainkan angan seakan hadirmu begitu dekat melekat

dik, biarlah malam ini kusetubuhi gerai rambutmu dalam mimpi

MAAF

Aku yang salah

merubah rasa hingga kau kecewa

hasrat kembali tersesat di persimpangan

pudar cahaya sirnakan niat di belantara

duh gusti…, sampaikan maaf ku padanya

LUPA

Seharusnya masa lalu itu milik kita

memandang lembayung dibatas senja pun milik kita

lalu, mengapa kau berniat melupakanku ?

pergi seorang diri melintasi jarak yang tak dapat ku pegat

LELAH

Baiknya ku lupakan saja tentangmu

terus mengingat pun aku jadi gelisah

sementara waktu merangkak menerkam usia

meruntuhkan harap membangun sia-sia

telah ku buang detik, menit, jam percuma

LAYUH

Ku rendam rindu dan hasrat bertahun

ku jahit nganga luka merah pasrah

ku semai sunyi di telaga jernih tak berarti

jadi saat kita bertemu lagi nanti

jangan kau tanya layuh biru cintaku

KLANDESTIN

Malam itu diam rindu menyambangiku

menyusup malu menembus hati dan pikiranku

gerimis kecil menabuh merdu genting-genting tua

membasahi daun bangunkan tidur rumput kecil

keheningan menjelma sunyi menyayat tiada rupa

KIRMIZI

Dengan burakah cintamu di taut tinggi

Membubung kusam di semak-semak awan

Kau membusung memilah-milah kasih

Mencampakkan yang ada mencari tiada

Terlupa hari akhirnya menua sendiri

KEPADA SAM

Kau masih ingat jalan setapak

Di antara batang batang berduri wajah kita memucat

Kau berlari sambil mengunyah manis tebu sebilah hasil curian

Kakiku berlumur lumpur menerjang sembarang takut tertangkap

Aku lupa tahun berapa, tapi di mana kau sekarang Sam ?

KEPADA RAN

Kita berdua memecah kesunyian

Menatap buih ombak menuju pesisir

Daun-daun bakau hijau indah berbaris

Kau berlari kecil di antara karang air yang surut

Matahari merendah warnanya kuning kemerahan

Ditengah terbayang garis melengkung gelombang

Gambar kita menghitam bagai klise tak jelas pandang

Cahaya perlahan pergi berganti gelap hening

Pasir itu, rindu telapak kita yang sering telanjang

Sebab bertahun kita berpisah menuju kota

Kau jakarta, sementara aku di kota singa

Lupa ranah, tak sempat berbagi meski keinginan ada

KEPADA MALAM

Malam yang kusam…

butiran-butiran gerimis menyentuh tanah membasah

resah menggigil menyelinap tulang-tulang renta

hati yang rapuh tak kuasa bertahan memaksa rasa

ketiadaanmu meninggalkan jejak duka mendalam

Malam yang nyeri...

menjerat kalbu jaring duka tak berdaya

keinginan terjebak pusaran tiada lagi dirimu kini

bunga-bunga rebah menguncup letih tersibak perih

aku sendiri berteman malam kusam dan nyeri tak berarti

Berlalu saja malam...

bawalah kepingan luka terbakar matahari

sempurnakan kembali jiwaku yang hampir mati

sulamkan lagi asa yang retak tercabik perngkhianatan

aku tertidur menjemput cinta yang hampir tak teryakini

KAMIS PAGI

Kau memandangku dengan mata indah

aku membalas ragu akankah selamanya

sebab pertemuan ini adalah awal dan akhir

besok kau pergi tinggalkan jauh sebentuk rindu

gelisah menyerang kuingin pagi tak segera pulang

JAUH

Semalam kita putuskan untuk berpisah

sebab perbedaan telah menerobos telak

benteng yang kita bangun pun luluhlantak

kesepakatan berubah arah di putar gejolak

kesendirian menjadi takdir yang tak terelak

JANUARI DUARIBU TUJUH

bulan yang pergi...

bintang malas mengecup langit...

daun-daun rebah sesekali menggigil di terpa angin...

januari tersuruk awali hari-hari tak seimbang dengan harapan...

aku di sini, menjamah sunyi merangkai perih tiada henti...

pagi yang malang...

memanas memanggang rating-ranting hati...

asa tumbang terkapar menyentuh jiwa retak...

januari luluhlantak menuai kecewa di ambang terluka...

aku disini, mengemas takdir tak kuasa sendiri...

” Aku tetap di sini bersama januari cumbui sepi ”

JANUARI

Jangan redup pelitaku

meski tahun ini aku tak datang mengunjungimu

biar doa dan sepucuk surat saja yang mewakiliku

agar kau tak resah di kala aku jauh terpisah waktu

agar kau tak marah di saat aku lupa hari ulang tahunmu

INTERMEZO

Bila malam di kerumuni bintang

kau milikku

jika malam menyembulkan bulan

kau masih milikku

lalu, andai malam mendung turunkan hujan

milik siapakah kau ?

HENING

Telah lama ku pelajari arti kesendirian

bersama resah dan desau angin menjadi sahabat

menembang kepedihan mencoreng hitam kenangan

bulan berselimut awan malas tebari cahaya

hening begini aku tak kuasa menahan rindu

HAMPA

Beribu pesonamu telah ku tangguk

lalu ku simpan rapih di rak hati terdalam

menemani hari sepiku di tiada hadirmu

memagut rindu di sisa bening bola matamu

menyusun ngilu yang menghujam waktu demi waktu

GETIR

Barangkali kita perlu bicara...

tentang dusta dan ketiadaan cinta

sementara sandiwara terus berlanjut

menggerus waktu menenggelamkan kenyataan

ya, semestinya kita bicara tentang kepalsuan selama ini

bila ada sela kita jeda sebentar…

merenung diri membawa keinginan di tempat sepi

membuang topeng menutup wajah kita selama ini

mengubur kebersamaan di antara luka dan airmata

ya, semestinya kita jeda berjalan beda mencari kesejatian



DUAPULUH ENAM AGUSTUS DUARIBU DELAPAN

Kita disore hari…,

saling menatap pura pura tak melihat

jantung berdegup hampir setahun tak bertemu

bahasa yang kukirim nyaris tak berarti

memamah sepi mengingatmu nyeri dihati

Kita disore hari...,

hampir saja ku tak datang menjenguk teduh matamu

sebab rindu yang kukirim dulu tak berbalas

tala yang kugemapun lupa kau senadakan

jiwaku lenggana menyapapun terasa besu

Kita disore hari...,

menyimak lagi sisa halaman yang belum terbaca

mencoba laraskan cerita akhir penyatuan

mengemas masa lalu mencari sempana kemudian hari

aku menatapmu sambil menunggu tiada waktu

kita disore hari...,

janji bertemu usai mengembara jelajahi matahari

disebuah mal nikmati senja bertukar cahaya

sekumpul bahagia kupandangi terus wajahmu

secercah asa aku dan kau ikrar bersama


DUA JULI DUA RIBU TUJUH

Mengenangmu,

pada malam-malam sepi teramat perih

mencoba lupa terjebak aku di lingkar parasmu

mencoba pasrah semakin aku ingin bertemu

lalu di mana harus ku buang lekuk tubuhmu?

Sementara garisnya telah ku hafal dengan penuh

Mengenangmu,

melemparku ke dalam bahagia masa lalu

mencelupkan ingatan tak ikhlas kau segera pergi

sendiri begini aku ngilu sunyi tiada terperi

siapa yang bisa mengobati luka hati?

Kecuali kau kembali ke sini merajut lagi mimpi

BOGOR EMPATBELAS MARET DUARIBU DELAPAN

Malam yang melelahkan

seluruh tubuh lemas tak berdaya

letupan-letupan benci memaki kepergianmu

sarang-sarang kelam memaksa aku sendiri lagi

melukis cemas memilih berlalu daripada menangis

Pertemuan kita tadi sesaat saja kurasa

sebab kau harus segera kembali menimang buah hati

deras hujan mengantar kau menyusun jauh jarak kita

percakapan usai padahal matahari belum lagi tenggelam

gusti, begitu malang kau sematkan cinta di sukma terdalam

ATAS NAMA LUKA

Telah ku mengerti, kau hanya singgah sebentar

Mengisi kesendirianku, menjadi madu dalam empedu

Angan terbuai, jelajahi samudera mengapung tak berlabuh

Telah ku mengerti, sesaat lagi kau pergi

Mengembara hari, tinggalkanku menimang sepi

Ya Robbi…! mengapa pahit Kau ciptakan terasa pahit

Antara Jakarta dan Perth

Aku terdiam lesu berdiri di sudut bandara

mengantarmu pergi menempuh jarak beribu mil jauhnya

suaraku parau kerelaan hati enggan menegaskan langkah

kelopak keinginan bersamamu luruh di jegal terjal takdir

mata yang sayu melepas kau meski asa terus bermimpi

Malam yang pekat cahaya berkelebat menggundah rasa

lentera kalbu redup mengais perih air mata merintih

aku tersesat disimpul cahaya meregang tiada kepastian

kau melesat seakan kebersamaan memaksa kita untuk berpisah

antara jakarta dan perth aku kehilanganmu

AKU

Adalah mimpi kangenmu di malam selalu

menjadi jerat menjaring hatimu yang membeku

menyekap setiap hembusan nafas sesak kasihmu

merajai detak jantungmu berselaput kelu

aku, adalah cintamu di kembara sembilu

AGUSTUS DUARIBU

Dulu kita sepakat

menaruh potret di dalam dompet masing-masing

agar selalu terbawa kemanapun kita mengembara

memandangnya utuh saat rindu menyerang kalbu

meski beberapa teman menyergap menyerbu tak setuju

Dulu aku juga tahu

kau banyak penggemar hati tak tenang cemburu

takut kehilangan aku mengikatmu dengan puisi

ku bajak cintamu dengan mantera sejuta keyakinan

meski kemudian hari kau pergi tak pernah kembali

potret lusuh di makan waktu yang bergerak maju

puisi tercabik maknanya tak lagi punya arti

mantera tumpul di hujam keraguan tersedak dalam